Jumat, 22 Februari 2019

Per-Satu Bait

**
Meninggalkanmu bukan berarti membencimu
Pergiku hanya untuk mencari
Mencari sebuah jawaban
Jawaban Takdir-Nya

**
Di sepertiga malam aku menghadap
Menumpahkan segala kisahku yang terjadi hari ini
Hingga aku merasakan sebuah usapan lembut
Mengusap kepalaku

**
Cinta memang indah
Namun cinta juga bisa menyakitkan
Sadar bahwa aku sangat mencintaimu
Hingga akhirnya aku menyakiti diriku

**
Telah digariskan dalam takdir Tuhan
Dan rela hati ini untuk melepas
Walau sesak telah melingkupi
Sadarlah! Diri ini tidak sebanding

**
Waktu berlalu dengan cepat
Hingga pada akhirnya diri ini bisu
Melangkah kedepan dengan tetesan airmata
Tak sanggup. Sungguh. Benar-benar tidak sanggup.

**
Jika sebuah semangat hadir
Akan ada kekuatan yang membangkit
Walau terlihat rapuh bila ditatap
Namun semua akan terwujud dalam indahnya waktu

Masih Menelisik

Sebuah fakta, ternyata dalam sekelebat kebiasaan akan menurunkan ketertarikan. Satu saja itu terlihat, mata memandang sudah enggan. Keinginan pun meluruh, seakan hilang hanya dengan satu hembusan.

Ketika semua terbaca yang terdapat dalam diri yang dilihat, sudah melelahkan. Lelah dalam artian berbeda. Sadar tidak sadar, waktu demi waktu, semua terbaca dengan jelas.

Ada satu penguat dalam diri ini, yang mengatakan bahwa "KAU HARUS TETAP BERTAHAN."

Bertahan untuk apa??

Untuk semua hal yang telah kamu terima. Semua perkataan dan apapun itu.

Ternyata benar, mereka hanya sementara di waktu ini. Mereka yang berada dimanapun ketika kita bertemu.
Diwaktu yang akan datang pun, kemungkinan mereka-mereka ini akan hilang. Hilang di dalam waktu yang berputar.

Dengan sebuah penguat dalam diri ini, mungkin akan menjadi pelajaran di kemudian hari.
Jika sebuah pengalaman saat ini pahit, di masa mendatang pengalaman yang sama akan berbuah manis.

Karena apa??

Karena sudah tidak ada lagi kesamaan jawaban.

Kamis, 07 Februari 2019

Gagal Bersandiwara

Dari sekian banyak kegiatan yang sudah aku lalui. Aku sadar, bahwa beberapa bulan terakhir ini. Aku merasa aku sedang menjaga. Menjaga sebuah penantian seseorang. Dan entah kenapa, kadang aku merasa sangat yakin bahwa ia akan datang. Terkadang juga, aku ragu. Apakah ia sudah tidak peduli lagi denganku?

Semenjak obrolan yang saat itu dengan nekadnya aku memulai, aku merasa sebuah perbedaan dalam tutur kalimatnya. Kalimat yang mengandung kesan bahwa aku sudah menjadi asing. Sakit dan kecewa itulah yang aku rasakan saat itu. Sampai aku membaca berulang kali pesan itu.

Aku sudah berusaha untuk lupa. Lupa akan keadaan yang pernah aku lewati bersama dengannya. Namun, gagal.
Lagi dan lagi ia dengan tidak sengaja muncul dalam pikiranku. Sudah ku tepis jauh-jauh, tetapi itu tidak membantu. Ada saja hal yang membuatku mengingat sebuah kebersamaan yang dulu pernah ada.

Senin, 04 Februari 2019

Dapatkah Waktu Diputar Kembali?

Mungkin memang ini jalan-Nya. Aku bukan untukmu, dan kamu bukan untukku. Jawaban dari semua do'a yang ku panjatkan disetiap sembahyangku.
Hadirmu dalam hidupku telah menghadirkan banyak warna. Dari mulai aku tidak mengerti apa-apa hingga aku benar-benar menjadi orang yang bodoh.

Sepertinya benar. Aku menjadi orang yang bodoh. Sudah melepas tetapi masih ingin mempertahankan.

Singkatnya, cinta datang tanpa tau kapan itu waktunya.

Seringkali aku berfikir, apakah ini kehendak Tuhan? Apa ini memang jalan-Nya?
Jawabannya adalah ini hanyalah permainan Tuhan. Yang namanya MAIN-MAIN yaa akan BERAKHIR seperti sebuah permainan.
Tidak ada keseriusan. Hanya sementara.

Dan kenapa aku memilih jawaban itu?  Karena aku memikirkan dirimu jauh kedepan sana.

Apa yang harus aku katakan sekarang?
"Say good bye" kah?
"See you later" kah?

Tetapi, apakah bibir ini sanggup mengucapkan kalimat singkat itu?
Apakah hati ini rela?

Dari sekian banyaknya berita yang sampai pada telingaku, berita inilah yang membuatku tercengang. Aku bingung, haruskah aku bahagia atau bahkan sedih? Akupun tak tahu menahu akan rasa ini.
Bagai kupu-kupu yang hinggap dalam dedaunan kering. Itulah aku, daun yg kering. Dan ketika kamu hinggap, itu semua terasa berbeda. Semua terasa indah dan menyejukkan.
Akankah aku dapat merasakannya lagi?
Desiran kala kamu mengetikkan sebuah kalimat yang sakral. Desiran kala kamu memperhatikanku secara diam-diam. Desiran kala kamu memberikan pertolongan yang aku sendiri tidak tahu maksudnya apa.

Satu-satunya orang yang selalu ada, kala itu.
Satu-satunya orang yang peduli disaat aku sendiri.
Satu-satunya orang yang suka memberi petuah-petuah yang bisa membuatku bangkit.

Kini akan hilang, lenyap, dan sirna.
Dapatkah waktu diputar kembali?